"Tu...wa..ga..pat.."
"This is disco lazy time... I want you i need you..."
Begitulah asyiknya sekumpulan anak band yang menamakan diri mereka 3DIUS, memainkan lagu Disco Lazy Time dari Nidji saat latihan band di kampus mereka.
"Eh, Dean. Kok suara loe hari ini ga enak banget didengernya. Loe abis makan kerupuk 10 bungkus yach?" potong Diaz, si keyboardnis 3DIUS sambil menghentikan permainan keyboardnya.
"Sori temen-temen. Semalem gue tidurnya kemaleman jadi suara gue agak serek-serek kering gitu," bela Dean, sang vokalis 3DIUS.
"Kenapa kemaleman? Gara-gara test bahasa inggris hari ini yach, jadi loe lembur belajar?" tanya Delima, sang bassis sambil mengerutkan dahinya.
"Hehehe... Ga. Gue semalem abis dugem. Jadi pulang pagi gitu," ujar Dean sambil nyengir kuda.
"Ye... dugem melulu loe," sahut Silv, sang gitaris 3DIUS.
"Yach, udah untuk hari ini sampe di sini dulu aja deh latihan kita. Gue juga ada urusan pribadi yang penting yang mesti gue selesain. Key?! See you, guys," kata Ucha, sang drumer sambil beranjak dari tempat duduknya dan mengambil tas ranselnya kemudian langsung pergi dengan tergesa-gesa sampe nyandung di kabel gitar Silv.
"Duh, Cha. Makanya hati-hati donk?! Buru-buru amat, emang mo kemana sih?" Tanya Silv.
"Duh, kabel loe nih ga punya mata apa, kok bisa-bisanya bikin gue ampir jatoh. Dasar sial!" Ujar Ucha sambil pergi dengan wajah yang bringasan.
"Eh, Ucha kenapa sih? Akhir-akhir ini kok dia jadi temperamen gitu yach?" Tanya Delima sambil mengerutkan dahinya lagi.
"Lagi M kali?!" ceplos Dean sambil mencibirkan bibirnya.
"Males maksud loe?" Tanya Diaz.
"Atau Marah?" Sambung Delima.
"Maybe...," jawab Dean, sekali lagi dengan mencibirkan bibirnya makin ke bawah.
"Eh, temen-temen. Yang lebih anehnya lagi kenapa akhir-akhir ini penampilan Ucha berubah. Sekarang doi doyan banget pake kaca mata hitam. Memangnya di ruangan kita ini terlalu silau yach?" Sambung Silv.
"This is disco lazy time... I want you i need you..."
Begitulah asyiknya sekumpulan anak band yang menamakan diri mereka 3DIUS, memainkan lagu Disco Lazy Time dari Nidji saat latihan band di kampus mereka.
"Eh, Dean. Kok suara loe hari ini ga enak banget didengernya. Loe abis makan kerupuk 10 bungkus yach?" potong Diaz, si keyboardnis 3DIUS sambil menghentikan permainan keyboardnya.
"Sori temen-temen. Semalem gue tidurnya kemaleman jadi suara gue agak serek-serek kering gitu," bela Dean, sang vokalis 3DIUS.
"Kenapa kemaleman? Gara-gara test bahasa inggris hari ini yach, jadi loe lembur belajar?" tanya Delima, sang bassis sambil mengerutkan dahinya.
"Hehehe... Ga. Gue semalem abis dugem. Jadi pulang pagi gitu," ujar Dean sambil nyengir kuda.
"Ye... dugem melulu loe," sahut Silv, sang gitaris 3DIUS.
"Yach, udah untuk hari ini sampe di sini dulu aja deh latihan kita. Gue juga ada urusan pribadi yang penting yang mesti gue selesain. Key?! See you, guys," kata Ucha, sang drumer sambil beranjak dari tempat duduknya dan mengambil tas ranselnya kemudian langsung pergi dengan tergesa-gesa sampe nyandung di kabel gitar Silv.
"Duh, Cha. Makanya hati-hati donk?! Buru-buru amat, emang mo kemana sih?" Tanya Silv.
"Duh, kabel loe nih ga punya mata apa, kok bisa-bisanya bikin gue ampir jatoh. Dasar sial!" Ujar Ucha sambil pergi dengan wajah yang bringasan.
"Eh, Ucha kenapa sih? Akhir-akhir ini kok dia jadi temperamen gitu yach?" Tanya Delima sambil mengerutkan dahinya lagi.
"Lagi M kali?!" ceplos Dean sambil mencibirkan bibirnya.
"Males maksud loe?" Tanya Diaz.
"Atau Marah?" Sambung Delima.
"Maybe...," jawab Dean, sekali lagi dengan mencibirkan bibirnya makin ke bawah.
"Eh, temen-temen. Yang lebih anehnya lagi kenapa akhir-akhir ini penampilan Ucha berubah. Sekarang doi doyan banget pake kaca mata hitam. Memangnya di ruangan kita ini terlalu silau yach?" Sambung Silv.
"Kayaknya hal ini perlu kita selidiki nih," ujar Silv lagi sambil mengelus-elus dagunya yang penuh dengan bulu-bulu halus yang agak kruel-kruel soalnya udah 3 hari Silv ga cukur jenggotnya.
#########################
Sementara itu, di ruangan pertemuan klub IT kampus.
"Bagaimana perkembangan alat pendeteksi super canggih yang sedang kita kerjakan?"
Tanya Sam, sang ketua klub.
"Begini Sam, alat itu sudah hampir sempurna. Kita tinggal mencari satu komponen pelengkapnya yang sampai saat ini belum kami temukan," jawab Lady, anggota klub.
"Komponen apa yang belom ada? Sepertinya semua komponen sudah lengkap dan kalian tinggal merakitnya," ujar Sam sambil mengerutkan dahinya.
"Sampel dari yang dideteksi. Kalau sampel tersebut tidak ada, bagaimana kita tau kalo alat ini berfungsi," cetus Gadies, salah satu anggota klub.
"Oh, itu. Gue kirain apaan," ujar Ta2, sekretaris klub.
Tiba-tiba pak Bobby, dosen pendamping klub ikut angkat bicara, "untuk masalah itu, kita harus benar-benar hati-hati karena objek yang dideteksi bukan objek sembarangan. Kita tidak mungkin mendapatkannya dengan pasti. Kita hanya bisa menunggu..."
Sebelum pak Bobby selesai berbicara, tiba-tiba alat tersebut berbunyi.
"Ini dia si kucing garong..."
"Sudah gue bilang, kita jangan pake lagu ini sebagai alarm. Berisik tau," teriak Ta2 sambil menutup telinganya dengan kedua tangannya.
Lain halnya dengan Lady, eh dia malah joged ngebor saat mendengarkan lagu ini.
"Eh, temen-temen. Kenapa tiba-tiba alat ini berfungsi?" Tanya Sam bingung.
Gadies langsung berinisiatif untuk membuka pintu ruang pertemuan dan melongokan kepalanya keluar sambil tengok kanan, tengok kiri. Ternyata dari sebelah kiri dilihatnya Ucha lewat di depan ruangan mereka.
"Eh, ternyata Ucha yang lewat tadi. Mungkin Ucha yang menyebabkan alarm alat ini berbunyi," cetus Gadies.
"Apa? Apa itu bener?" Tanya Ta2 tak percaya sambil ikut-ikutan melongokan kepalanya keluar. Dan dilihatnya ternyata memang benar Ucha yang tampak dari belakang ada di lorong depan ruangan pertemuan klub dan sosoknya semakin lama semakin mengecil dan buru-buru menghilang.
"Eh, bener...bener. Si Ucha..."
"Kalo gitu, si Ucha adalah..." Sam berkata sambil mengangguk-anggukan kepalanya dengan tampang mengerti.
"Tidak mungkin. Masa’ Ucha..." sambung Lady dengan mata berkaca-kaca.
"Kita harus selidiki hal ini," cetus Ta2.
"I have an idea. Untuk langkah pertama, gue akan berusaha mengorek informasi mengenai Ucha dari kakak gue, Dean. Dia kan satu grup band sama Ucha," ujar Sam pasti.
"Kids, u must be carefull with this. Okay?!" sambung pak Bobby sambil memberikan nasehat.
"Ok, pak. Tenang aja," sahut Ta2.
########################
At the Winchester’s house, night time...
"Dean," panggil Sam.
"Apaan?" sahut Dean sambil asyik memainkan PS3-nya.
"Dean, menurut loe... Ucha itu... orangnya kayak gimana sih?"
"Ucha...Ucha...dia orangnya lucu, pinter, walaupun kadang-kadang suka narcis gitu n nyebelin soalnya suka ngambil jatah makan siang gue. Loe tau kan gue itu kalo makannya banyak, tapi jatah makan siang di kantin itu dikit banget. Udah dikit eh, suka diembat Ucha lagi. Dan..."
"Dean! Gue tau loe makannya banyak, ga usah diceritain juga gue tau. But now, yang gue tanya ini Ucha. Not you."
"Iye, iye. Kenapa sih loe nanya-nanya Ucha? Loe suka sama dia yach?" goda Dean.
"Enak aja, gue udah punya gebetan tau. Tuh si Ta2 imoet, sekretaris gue (ngarep kali ., red)," jawab Sam sambil senyum-senyum.
"Trus ngapain loe nanya-nanya Ucha?" tanya Dean masih sambil sibuk maen PS.
"Loe ngrasa ada yang aneh ga sih akhir-akhir ini sama Ucha?"
"Yach, game over dah. Gara-gara loe sih, nanya melulu. Apaan sih?"
"Dean, this is a very important thing. It’s about your friend. Baru-baru ini kan gue n temen-temen IT gue punya proyek buat alat pendeteksi super canggih. Nah, alat ini berfungsi pada saat Ucha lewat di depan ruang pertemuan kami. Dari situlah kami mengambil kesimpulan bahwa..."
"Memang sih, akhir-akhir ini si Ucha tuh agak rada-rada aneh. Pas latihan band, ogah-ogahan terus temperamen tinggi lagi," sambung Dean sambil memutar otaknya untuk mencoba mengingat-ingat lagi.
Tiba-tiba handphone Dean berbunyi dengan ringtone khasnya. Lalu Dean cepat-cepat mengambil handphone dan menjawabnya.
"Halo, kediaman keluarga Winchester. Selamat malam ada yang bisa diganggu eh, dibantu?" ujar Dean dengan nada resepsionis.
"Halo, Dean. Ini gue, Silv. Gue sekarang lagi ngbuntutin Ucha. Gue lagi di diskotik Roadhouse, loe cepetan ke sini yach, penting nih?!"
"Oke, oke. Loe diem aja di tempat gue segera meluncur ke situ."
Dengan tergesa-gesa Dean mengambil kunci impalanya dan bergegas untuk pergi.
"Dean, gue ikut," ujar Sam sambil bergegas mengikuti Dean.
#######################
"Halo, Ta2. Ini gue, Sam. Tolong loe kumpulin anak-anak IT di diskotik Roadhouse.
Suruh Lady bawa juga alat pendeteksi super canggih kita, key?! Sekarang!"
#######################
At Roadhouse,
"Bang, sms siapa ini bang. Bang, pesannya kok pake sayang, sayang. Bang..."
Lagu sms menyambut Sam dan Dean saat memasuki diskotik Roadhouse.
"Silv! Silv!"
"Loe lagi ngapain, Dean?" tanya Sam.
"Gue lagi nyari Silv," jawab Dean polos.
"Loe tau kan ini diskotik?"
"Yaelayalah, gue tau. Gue kan sering ke sini. So?"
"Dean, loe pikir suara loe bakal kedengeran sama Silv?"
"Hehehe... Ga," jawab Dean sambil nyengir.
"Dasar you, you ga bisa diajak becanda you. Joking, joking dikit napa," gerutu Dean.
"Hm...ya udah. Gini aja, loe cari Silv di sebelah sono gue di sebelah sini. Ok?! Ntar kalo udah ketemu loe hubungi gue yach?!" cetus Sam.
"Ok"
Dean dan Sam langsung berpencar untuk mencari Silv.
Setelah 15 menit mengelilingi diskotik untuk mencari Silv, akhirnya Sam menemukannya. But wait a minute, "lho kok Silv sama Dean lagi joged-joged sama cewek-cewek bar?" tanya Sam dalam hati.
"Seharusnya gue bisa nebak kalo hal ini bakalan terjadi," ujar Sam dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela nafas.
"Sam!" panggil Ta2 dari belakang.
"Eh, kalian udah nyampe. Bentar yach gue panggil Dean dulu."
Sam menuju ke arah Dean dan Silv, kemudian menarik mereka ke arah Ta2, Gadies, dan Lady.
"Wah, loe dapat cewek bar juga. Tumben loe gesit," ujar Dean asal.
"Enak aja. Ini temen-temen IT gue. Kenalin ini Ta2, Gadies, Lady," jawab Sam sambil menunjuk tim IT-nya satu persatu.
"Ok. Lady loe bawa alat pendeteksi itu kan?" tanya Sam.
"Ini, gue bawa," jawab Lady sambil menyodorkan alat pendeteksi itu pada Sam.
"Silv, bisa tolong loe ceritain apa yang sebenernya terjadi dengan Ucha," kata Dean dengan tampang serius.
"Tadi gue liat dia lagi sama temen-temennya. Gue ga tau sapa mereka. Mereka mencurigakan sekali. Semuanya menggunakan kaca mata hitam dan berpakaian serba hitam dengan pakaian dalam juga hitam," jelas Silv.
"Lho kok sampe ke dalaman juga sih?" tanya Gadies bingung.
"Tadi gue ngintip salah satu cewek berambut pirang yang menggunakan rok mini. Cewek itu salah satu temen ga jelasnya Ucha."
"Hu... dasar loe. Di saat genting kayak gini, tetep aja..." ujar Dean yang kali ini mencoba untuk serius sambil melirik Sam, takut kena sembur lagi.
"Mereka ada berapa orang semuanya?" lanjut Dean.
"Hm... kira-kira ada 2 cewek termasuk Ucha dan 3 cowok yang badannya kekar semua bo’," jawab Silv.
"Mereka sekarang ada di mana?" tanya Sam.
"Tadi gue liat mereka ke gudang belakang," jawab Silv sambil menunjuk ke arah pintu belakang.
"Ok, kalo gitu kita langsung susul aja," ajak Dean.
Mereka ber-6 akhirnya menuju ke gudang belakang Roadhouse untuk mengintai Ucha dan teman-temannya. Kira-kira apa yang akan terjadi di sana?
##########################
"Dean, kayaknya kita ga mungkin masuk dengan tangan kosong. Gimana kalo kita bawa beberapa peralatan yang mungkin kita butuhkan kalo terjadi sesuatu?" tanya Sam.
"Bener juga loe Sam. Apalagi tadi Silv bilang temen-temen ga jelasnya Ucha badannya kekar semua," jawab Dean.
"Kalo gitu kita ke mobil gue dulu aja. Di bagasi gue ada beberapa peralatan yang mungkin bisa kita gunakan," cetus Dean.
"Silv, kalian duluan aja. Gue ama Dean mo ke mobil dulu. Ada yang ketinggalan. Ta, ini alat pendeteksi super canggihnya. Kalo misalnya alat pendeteksinya aktif, berarti kalian harus hati-hati. Ucha berada di sekitar kalian," ujar Sam sambil memberikan alat pendeteksi super canggih pada Ta2.
"Ok, deh. Kami duluan yach?! Jangan lama-lama, Sam!"
#############################
"Dean, emangnya ada apa aja di bagasi mobil loe?"
"Kita liat aja nanti, banyak kok peralatan gue."
Sesampainya di mobil,
"Oh, my God. Loe nyimpen semua barang ini di bagasi loe?" ujar Sam sambil mencoba melihat-lihat barang-barang rongsokan yang disimpen Dean di bagasinya.
"Ini bagasi apa gudang?"
"Diem loe. Untung aja barang-barang ini ga gue buang. Khan sekarang bisa berguna. Cari sana barang yang menurut loe pas untuk aksi kita," jawab Dean sambil mencoba memilah-milah juga.
"Apa ini? Hairdrier mommy? Cukur jenggot daddy? Oh no... my boots. Untuk apa sih loe umpetin barang-barang ini di sini?" protes Sam.
"Sebenernya barang-barang ini gue pinjem tapi lupa ngembaliinnya," aku Dean sambil senyum-senyum.
"And what is this? Daddy’s diary?" tanya Sam ga percaya sambil mengambil sebuah buku tua dengan sampul berwarna coklat tua.
"Kalo yang ini iseng aja gue baca-baca diari bokap," ujar Dean sambil nyengir.
"Eh, tapi ada yang aneh sama diari ini lho. Masa’ isinya tentang hal-hal gaib?!"
"Maksud loe?" tanya Sam bingung.
"Lihat ini. ‘There are many kind of demons...’," ujar Dean sambil membuka lembaran buku diari yang dipegang oleh Sam.
"’characteristic of possessed people : grumpy, don’t want to playing band, like to wear glasses everywhere,,...’ Nah, Ucha banget nih," ujar Sam sambil melanjutkan membaca buku diari yang dipegangnya.
"Iya, nih. Ada lagi...’the demons very scare with light, sold, and holy water’. Kita harus bawa garam sama air suci nih supaya Ucha kembali seperti semula. Dimana kita bisa dapet garam sama air suci yach?" tanya Dean.
"Hm, gue tau. Ayo cepetan ikut gue," ujar Sam sambil masuk ke mobil lalu diikuti oleh Dean.
"Mo kemana loe?"
"Kalo garam beli aja di warung. Ada warung kok deket-deket sini. Gue sering disuruh mommy ke warung beli bumbu dapur," jelas Sam.
"Trus kalo air suci?"
"Ambil aja di gereja, khan banyak," jelas Sam sekali lagi.
#############################
"Sekarang garam sama air suci sudah ada tinggal menuju ke lokasi perburuan. Eh, kita kayak hunter aja yach?!" ujar Dean.
"Cepetan, kasian Silv, Ta2, Lady, n Gadies udah lama nungguin," ujar Sam.
Lalu Dean menambah kecepatan mobilnya dan akhirnya sampai juga mereka di gudang belakang Roadhouse.
Sesampainya di gudang,
"Dean, kok gudangnya sepi banget yach? Mana Silv, Ta2, Lady, n Gadies?" kata Sam sambil berjalan mendekati salah satu jendela gudang itu untuk mengintip.
"Iya nih pada kemana semuanya?" tambah Dean.
"Eh, copot-copot..." latah Dean karena terkejut ada seseorang yang memegang bahunya dari belakang.
"Dean, ini gue Silv. Loe kok lama banget sih datengnya?" tanya Silv dengan nada datar.
"Eh, loe. Ngagetin gue aja sih. Mana yang laen?" tanggap Dean sambil melongokan kepalanya ke belakang Silv.
"Mereka lagi ada di dalam, kita nyusul aja ke dalam," jawab Silv.
"Eh, Silv. Kayaknya loe lagi haus deh. Nih, tadi gue ada beli Pocari Sweat (bukan bermaksud promosi lho, red) di warung. Minum deh," ujar Sam sambil menyodorkan sebotol Pocari Sweat.
"Thank’s yach?!" ujar Silv sambil mengambil botol itu dari tangan Sam.
Setelah Silv meminum Pocari Sweat itu, Silv langsung terlihat kesakitan dan semua tubuhnya berasap, "Aarrrgghhhhh....."
Tak lama kemudian, keluar segumpal asap hitam dari mulut Silv dan Silv pun langsung tergeletak di tanah dan tak sadarkan diri.
"Sam, apa yang loe lakuin? Loe ngracunin Silv yach?" ujar Dean panik.
"Dean, he’s possessed by a demon. Loe ga liat tingkah lakunya aneh banget? Untung gue bawa Pocari Sweat, di sini kan ada NaCl-nya," jelas Sam.
"Oh, gitu yach."
"Mulai saat ini kita harus hati-hati nih."
Dean dan Sam pun mulai memasuki gudang itu dengan langkah yang hati-hati serta berbekalkan garam, air suci, dan senter. Tak berapa lama kemudian, muncul Ta2, Lady, n Gadies dari balik tiang kayu yang merupakan salah satu pilar gedung itu. Dengan tidak basa-basi lagi, mereka mencoba untuk menyerang Sam dan Dean. Untungnya Sam dan Dean sudah bersiap-siap dengan perkakas tempurnya. Mereka pun menyiramkan air suci ke arah 3 dara itu, kemudian, "Braak...," mereka langsung K.O.
Serangan tersebut disusul oleh 3 orang laki-laki temen ga jelasnya Ucha. Dean dan Sam hampir kewalahan karena mereka kalah jumlah tapi untung saja Dean dan Sam cukup gesit karena mereka rajin fitnes, lalu mereka memasukkan garam ke dalam mulut 3 laki-laki itu dan menyiramnya dengan air suci. Otomatis, iblis itu langsung ngacir dan meninggalkan tubuh 3 laki-laki kekar itu.
"Huh, Dean that’s almost...," ujar Sam sambil ngos-ngosan.
"Mana Ucha dan temen cewek rambut pirangnya itu, yach?" tanya Dean sambil ngos-ngosan juga.
"I’m here Dean," jawab Ucha sambil nongol dari balik tiang bersama dengan teman pirangnya.
"Oh, loe di situ, Cha. Gue cariin kemana-mana."
Setelah percakapan singkat, Ucha langsung menyerang Dean dan si pirang menyerang Sam. Terjadi perkelahian yang sangat seru. Ucha membanting Dean ke lantai disusul dengan Sam. Sepertinya Ucha dan si pirang lebih ganas dan kuat daripada 3 cowok kekar tadi. Sam dan Dean tampak lebih kewalahan. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, Ta2 n Lady mengambil air suci dan garam yang terjatuh dari tangan Sam dan Dean. Ta2 dan Lady langsung membasahi tubuh Ucha dan si pirang dengan air suci dan juga menghamburkan garam ke badan mereka. Langsung Ucha dan si pirang kesakitan dan keluarlah gumpalan asap hitam nan tebal dari mulut mereka.
"Huh, Thank’s Ta," ujar Sam sambil menghela napas dan mencoba untuk berdiri.
"Wow, that’s pretty enthuastic fight. I must try this everyweek," ujar Dean masih berbaring di lantai.
########################
Pagi harinya setelah kejadian,
"Ada yang liat cukuranku?" teriak ayah Dean dan Sam dari kamar mandi.
--------------------------- THE END ---------------------------
No comments:
Post a Comment